Senin, November 30, 2009

10 Jurus Ampuh Menjadi Pemimpin

Hanya ada dua pilihan dalam hidup ini: memimpin atau dipimpin. Menjadi bawahan atau atasan. Jika Anda memilih untuk jadi pemimpin, berarti Anda ingin diikuti. Sebaliknya, ketika Anda secara sadar memilih menjadi bawahan, maka Anda secara otomatis akan menjadi pengikut. Jadi, bagaimana? Tentukan pilihan Anda sekarang juga. Karena, jika Anda enggan jadi pemimpin, orang lain yang akan maju. Jika Anda enggan ke depan, orang lain yang akan memimpin. Karena itu, segeralah jadi kepala. Jika tidak, Anda akan menjadi ekor seumur hidup.
Masalahnya, "Menjadi pemimpin itu tidak mudah," pikir sebagian orang. Atau, "Memimpin diri sendiri saja susah, apalagi memimpin orang lain?" keluh sebagian orang lainnya. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga berpikir demikian? Jika tidak, selamat! Anda layak untuk maju. Jika jawaban Anda ya, sebaiknya Anda bergegas untuk membenahi diri. Pilihan menjadi bawahan seumur hidup, bukanlah alternatif terbaik bagi Anda. Lantas, bagaimana menjadi pemimpin yang baik? Ayo, mari kita saling berbagi. Anda boleh mencoba 10 jurus ampuh menjadi pemimpin. Boleh jadi, Anda tidak cocok dengan jurus-jurus yang saya tawarkan. Coba saja! Toh, jika Anda gagal, setidaknya Anda sudah mencoba. Teddy Rosevelt pernah menyatakan, "Ia yang tidak membuat kekeliruan, tidak akan membuat kemajuan."
So, coba saja! Jangan takut salah. Jangan takut jadi pemimpin. Tidak perlu sibuk bertanya kiri-kanan, "Apakah saya punya bakat jadi pemimpin?" Ingat, tidak ada satu pun orang yang terlahir sebagai pemimpin. Nah, ini dia 10 jurus ampuh menjadi pemimpin.
1. Berani Belajar. Menjadi seorang pemimpin, berarti memilih secara sadar untuk terus belajar. John Wooden, seorang pelatih basket ternama, berpesan kepada kita, "Yang penting adalah apa yang Anda pelajari setelah mengetahui semuanya." Bagaimana jika seseorang telah meraih posisi puncak di perusahaannya, masihkah harus tetap belajar? Jawabannya singkat: ya. Boleh jadi, Anda masih perlu belajar tentang bagaimana meningkatkan pendapatan Anda, atau tentang bagaimana memimpin bawahan yang gemar menantang atasan. Jadi, meskipun Anda telah mencapai posisi yang diinginkan, sekalipun Anda telah mendapatkan kedudukan yang didambakan, Anda harus tetap belajar. Termasuk belajar dari bawahan Anda, atau belajar dari orang-orang yang Anda pimpin.
2. Belajar berinisiatif. Tanpa inisiatif, Anda tak akan berkembang. Tak akan ke mana-mana. Tak akan mencapai puncak. Boleh jadi Anda sudah mapan, sudah nyaman pada posisi yang Anda duduki saat ini. Tapi, jika Anda terus-terusan berpuas diri, Anda bisa digusur orang lain. Jadi, teruslah mengasah inisiatif Anda.
3. Belajar disiplin. Telisik diri Anda. Apakah Anda selalu datang ke kantor tepat waktu? Apakah Anda termasuk tipe orang yang menghargai waktu? Apakah Anda sering menepati janji? Ya, disiplin adalah kunci sukses menjadi pemimpin. Ingat, orang pertama yang Anda pimpin adalah diri sendiri. Jika Anda gagal memimpinnya, bagaimana mungkin Anda memimpin orang lain? 4. Belajar membangun kompetensi. Orang yang memiliki kompetensi yang tinggi, akan melangkah lebih jauh. Untuk menjadi seorang pemimpin, Anda harus memiliki jurus ini: Kompetensi. Jika Anda membangun, Anda akan mendapatkannya. Untuk memilikinya, Anda harus terus belajar, terus tumbuh, dan terus memperbaiki diri. Willa A. Fester mencerahkan kita dengan pesannya, "Kualitas tidaklah pernah merupakan suatu kebetulan. Kualitas merupakan hasil dari tekad yang bulat, upaya yang tulus, dan kerja keras."
5. Belajar berkomunikasi. Anda tidak mungkin mengungkapkan kebutuhan perusahaan, jika Anda tidak bisa mengkomunikasikannya. Anda tidak mungkin menyuruh, jika Anda susah menyuarakannya. Anda tidak mungkin meminta, jika Anda tidak sanggup menyuarakannya. Demikianlah, Anda butuh komunikasi. Karena, Anda tidak bisa menjalankan perusahaan yang Anda pimpin, menggerakkan orang-orang yang Anda pimpin, jika Anda tidak terampil berkomunikasi.
6. Belajar membangun integritas. Saya yakin, Anda memiliki integritas diri sebagai karakter, kepribadian, dan gaya hidup Anda. Kejujuran, keteguhan hati, ketulusan, dan keramah-tamahan adalah integritas Anda. Karenanya, Anda pantas menjadi pemimpin. Anda layak menjadi panutan. Karena pemimpin yang baik adalah sekaligus bisa menjadi teladan.
7. Belajar membangun hubungan yang harmoni. Menjadi pemimpin tidak berarti menguasai. Malah, bisa jadi, berarti melayani. Menjadi pemimpin tidak selalu memaki-maki. Malah, kalau perlu, memberikan motivasi dan menyuntikan semangat. Meminjam istilah Mawell, "Orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda ketahui, hingga mereka tahu seberapa jauh Anda peduli." Atau, mungkin Anda perlu menyimak fatwa Ma'ruf Mushthofa Zurayq, "Kita sering dipisahkan oleh batasan, karena kita lebih rajin membangun dinding, bukan jembatan."
8. Belajar mendengarkan. Suatu ketika, Wodrow Wilson, mantan Presiden Amerika Serikat, menyatakan bahwa, "Telinga seorang pemimpin harus mampu menangkap suara orang banyak." Jika Anda berniat menjadi pemimpin yang baik, maka jadilah pendengar yang baik. Buka telinga Anda. Simak baik-baik. Jika Anda mendengarkan bisikan-bisikan karyawan Anda, maka Anda tidak akan mendengarkan teriakan-teriakan mereka.
9. Belajar bertanggung jawab. John C. Maxwell, pada satu kesempatan menuturkan, "Seorang pemimpin dapat melupakan apa pun, kecuali tanggung jawab akhir." Ya, seorang pemimpin adalah penanggung jawab. Ketika anak buahnya melakukan kesalahan, bahkan yang berakibat fatal, ia tidak akan menumpahkan semua kesalahan kepada karyawannya itu. Alih-alih mencari kambing hitam, pemimpin yang baik malah sibuk introspeksi: Mengapa karyawan saya melakukan banyak kesalahan? Pemimpin yang bijak adalah biasa merangkul. Bukan menyudutkan!
10. Belajar menyelesaikan masalah. Masalah bukan untuk dihindari, melainkan untuk diselesaikan. Ukuran sukses Anda ditentukan oleh seberapa hebat Anda menuntaskan persoalan yang menimpa. Takaran kehebatan Anda memimpin ditentukan oleh seberapa dahsyat Anda menyelesaikan masalah yang Anda hadapi.
Nah, jika Anda telah menguasai jurus-jurus di atas, tunggu apalagi? Saatnya Anda beraksi. Anda bisa. Do it now!

Senin, September 28, 2009

MENGAPA KITA PERLU AGAMA ... ???

Sejarah telah mencatat—sebagaimana diberitakan Al Qur’an—bahwa sebelum diturunkannya agama (diasumsikan sebagai petunjuk dari Tuhan), pekerjaan manusia adalah merusak dan membunuh. Ini dapat diketahui dari protesnya para malaikat saat dimintai "pendapat" ketika Tuhan akan mengangkat seorang khalifah (wakil/Rasul)-Nya. Protesnya: "Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah (wakil/Rasul/utusan) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?" (QS.2:30). Ungkapan protes ini jelas sekali menandakan bahwa sebelum sang khalifah/Rasul/utusan (pembawa/pengajar) agama (Nabi Adam) diturunkan di muka bumi, perbuatan manusia adalah benar-benar merusak dan menumpahkan darah. Tidak beradab. Moralnya benar-benar tidak ada, rusak sama sekali. Seperti suku Barbar yang meluluhlantakan peradaban suku mana pun yang dijumpainya. Keadaan yang sangat kacau kalau dan carut marut inilah yang membuat malaikat—konon sebagai makhluk yang paling patuh dan mulia di sisi-Nya—angkat bicara. Dengan ”sangat terpaksa” memberanikan diri menginterupsi kebijakan Tuhan. Seolah tak yakin—mungkin juga "gak gaduk" pikirannya—kalau manusia yang demikian "bobrok" moralnya ini bisa dipercaya membawakan misi (agama)-Nya, menjadi khalifah-Nya. Kekhawatiran berlebihan tersebut nyatanya memang benar-benar terbukti. Setelah sang pembebas kegelapan benar-benar diturunkan, watak manusia ternyata tidak banyak berubah. Merusak dan membunuh masih kental sebagai kepribadiannya. Bukti riilnya justru terjadi pada putra Nabi Adam sendiri, peristiwa bunuh membunuh antara Qabil dan Habil. Padahal mereka berdua adalah orang yang paling dekat dan paling mungkin mengerti-memahami ajaran (agama) sang Rasul. Sangat ironis sekali. Yang paling dekat saja masih demikian ”bobrok” moralnya, bagaimana dengan yang jauh? Apalagi yang tidak pernah bertemu langsung dengan sang pembawa (pengajar) agama? Mencermati hal ini, maka tidak heran bila pada zaman prasejarah dulu peradaban manusia dihiasi dengan penjajahan, peperangan, dan pembunuhan. Berbagai bentuk penindasan telah menjadi kebiasaan, telah menjadi napas dalam kehidupan. Berlanjut sampai masa awal peradaban Islam, masih adanya penjajahan hak asasi yang berupa sistem budak—memperlakukan manusia bagai binatang yang dipekerjakan maupun diperjualbelikan. Lalu, Apa Hakekatnya Agama? Mungkin sekali, ketika Rasul Adam menjalankan misi Tuhan belum menggunakan istilah agama. Apalagi menamakan diri sebagai suatu agama, jelas tidak. Sebab, istilah agama sendiri lahir dari peradaban bangsa yunani, yang akar katanya: a tidak dan gama rusak. Sehingga, agama dapat dimaknakan menjadi seperangkat ajaran (sistem kepercayaan/keyakinan) yang dapat menjaga sekaligus mengantarkan pemakai (pemeluknya) agar tidak rusak. Tentu saja istilah agama ini lahir pasca kekhalifahan Adam. Sebab, logikanya, hanya melalui ajaran Adam-lah manusia mulai mengenal kebenaran. Manusia mulai mengenal istilah rusak tidak rusak. Mulai mengenal dari mana asalnya kebenaran, bagaimana ia musti terjadi, dan bagaimana pula mempraktikkannya dalam keseharian. Terlebih kebenaran mutlak wujud/zat-Nya—yang memang tidak mungkin dapat diselami tanpa melalui khalifah/wakil/Rasul-Nya. Entah apa nama agama beliau. Sejauh ini saya belum tahu pasti apa nama agamanya. Tampaknya memang belum ada penelitian yang komprehensif (menyeluruh) berkaitan dengan hal ini. Informasi-informasi yang berkaitan dengannya pun tidak banyak, kecuali yang tersurat dalam berbagai kitab Suci. Namun yang jelas, sebagaimana keyakinan dan pengalaman saya, yang beliau ajarkan adalah ajaran ketuhanan. Ajaran tauhid. Ajaran yang mengarahkan, mengertikan, dan memahamkan bagaimana mentauhidkan zat, sifat, dan af'al-Nya. Sekaligus pula ajaran yang mengajarkan bagaimana me-Mahasucikan Diri-Nya dalam keseharian. Serta, ajaran yang menekankan bagaimana seharusnya berlaku sebagai hamba (makhluk) di hadapan penciptanya (khalik) dan bagaimana membawa diri menempati posisi yang semestinya ditempati. Hakekat ajarannya sama dengan ajaran para Rasul-Nya sesudahnya. Sama-sama mengajarkan tauhid. Sama-sama mengakui satu Tuhan. Sama-sama mengupayakan bagaimana meng-Esakan-Nya. Sama-sama mengajarkan kebaikan, perdamaian, pengakuan hak asasi setiap orang. Juga sama-sama mengakui kemerdekaan individu yang universal. Yang membedakan hanyalah syariatnya. Kalau zaman Rasul sesudahnya ada ibadah haji maupun salat, pada zaman Adam belum ada. Sebab ibadah haji diturunkan pada zamannya Nabi Ibrahim. Sedangkan ibadah salat diturunkan pada zaman Nabi Muhammad SAW. Demikian pula zamannya Nabi Isa, di sana pun belum ada ibadah salat. Sebab ibadah salat diturunkan pasca kekhalifahan Nabi Isa. Begitu seterusnya. Hakikat ajarannya yang sama, syariat (tata lahiriah)-nya saja yang mungkin bisa berbeda. Terus, Mengapa Ada Banyak Agama? Ada dua faktor (perspektif logika dan pemikiran) yang mendasari mengapa ini bisa terjadi. Pertama, faktor manusianya. Faktor ini lebih didominasi oleh wataknya manusia yang suka membuat kerusakan di atas. Oleh karenanya sangat mungkin bahwa pada generasi penerusnya melakukan hal yang sama, berani merusak ajaran Rasul. Misalnya dengan mengadakan agama "tandingan". Atau mendirikan golongan-golongan baru, yang dalam jangka waktu tertentu mungkin jadi bisa berubah menjadi ”agama baru”. Sebab, yang dikatakan merusak bukan hanya sekadar merusak hardware-nya bumi langit dan seisinya, melainkan merusak software-nya pula. Merusak ajaran kebenaran. Merusak sistem ber-Tuhan yang dibawa Rasul. Merusak ”grand idea”(ide agung/mulia) atas penciptaan bumi langit dan seisinya—termasuk diciptakannya manusia. Maupun merusak kesanggupannya sendiri, yang berupa kesediaan memikul amanah dari-Nya (yang disanggupi oleh semua manusia tanpa kecuali ketika masih di alam arwah dulu). Faktor kedua adalah karena kekuasaan Tuhan. Faktor ini tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk para malaikat—sebagaimana kisah di awal tulisan ini. Menjadi hak mutlak-Nya bila Dia menurunkan agama baru—sebagai revisi terhadap agama sebelumnya. Sebagaimana yang jelas-jelas dapat dicermati, kisah penurunan agama Nasrani, dari komunitas agama yang sudah ada sebelumnya (Yahudi, maupun agama lain yang pernah turun lebih dulu). Demikian halnya penurunan agama Islam di lingkup berbagai macam agama yang sudah ada sebelumnya (Yahudi, Majusi, Nasrani, maupun agama lain yang lebih dulu ada). Perlunya “revisi agama” terhadap agama-agama yang terdahulu ini tidak jauh beda dengan revisi undang-undangnya buatan manusia—baik yang UUD maupun UU lainnya. Karena dirasa tidak cocok lagi dengan zamannya (karena zaman telah berubah), bermuatan kolonialis, berindikasikan paham “kiri”, produk barat, atau karena kurang demokratis sehingga perlu ada revisi baik isi maupun substansinya. Bila hal yang demikian (revisi undang-undang) menurut penciptanya sendiri adalah suatu yang niscaya, maka Tuhan pun lebih dari sekadar niscaya melakukan revisi atas agama yang pernah Dia turunkan di muka bumi. Dia Maha Niscaya. Dia Maha menentukan dan Maha mengubah segala sesuatunya, yang menurut pemikiran manusia dianggap tidak mungkin. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa berapa pun banyaknya agama di muka bumi ini, bila Tuhan menghendaki, maka pasti terjadi. Manusia tidak akan sanggup memprediksinya. Contoh yang sangat kecil, bila Nabi SAW waktu itu memprediksi bahwa Islam nanti akan pecah menjadi 73 golongan, ternyata sekarang tidak lagi sedemikian jumlahnya. Telah mencapai ribuan bahkan mungkin jutaan pecahan baru. Namun demikian, yang perlu dicatat adalah bahwa dari ribuan macam agama yang ada di bumi ini, yang benar dan sekaligus sempurna hanya satu. Yaitu agama yang di tengah komunitasnya ada khalifah/Rasul/utusan-Nya. Kedudukan sang Rasul ini sebagai "kabel" (penghubung) antara Tuhan dengan hamba-Nya. Sebagai "juru bicara"-Nya yang sekaligus "tangan kanan"-Nya, yang akan membimbing manusia pulang pada Diri-Nya. Tidak peduli apakah agama "update" ini punya basis masa atau tidak. Tidak peduli apakah ia diterima oleh umat manusia atau malah sebaliknya, dilecehkan dan dianggap membuat agama baru—yang biasanya dilakukan oleh penganut agama pendahulu. Bagaimanapun situasi dan keadaannya, proyek Tuhan mengentaskan kebodohan hamba-Nya tetap jalan terus. Tak ada agama mana pun—baik pemimpin maupun penganutnya—yang sanggup menghalanginya. Sekalipun semua agama yang telah ada di bumi ini bersatu padu untuk menentangnya, kekuasaan Tuhan (perihal ini) tak akan berhenti dan tak ada yang sanggup menghentikannya. Lebih dari itu, Tuhan tidak bangga bila semua hamba-Nya mau mengakui agama yang ”selalu” Dia update ini. Dia juga tidak risih, tidak susah, dan tidak pula "ngenes" bila mereka berbalik memusuhi pembawa ajaran (misi)-Nya. Sebagaimana firman tegas-Nya: “barangsiapa ingin beriman berimanlah, barang siapa ingin kafir kafirlah” (QS.18:29). Kesimpulan Jadi, sejatinya, perlunya diturunkan agama oleh-Nya adalah agar makhluk-Nya yang namanya manusia tidak lagi berada dalam kegelapan. Tidak lagi terjebak dalam kerusakan. Tidak lagi merasa puas atas keyakinan yang pernah diterimanya. Tidak pula merasa puas berada di ”langit” ilmu pengetahuan-pengalaman yang selama ini diyakini. Sebab, ”di atas langit masih ada langit”. Di mana ada ilmu pengetahuan-pengalaman yang tinggi—termasuk pula dalam agama—masih ada lagi pengetahuan-pengalaman yang lebih tinggi. Yaitu pengetahuan-pengalaman yang langsung dari Zat Yang Maha Tinggi. Kemudian mau mencari di mana al-haq (kebenaran sejati) itu berada. Tidak merasa paling benar sendiri, baik di hadapan sesamanya dan apalagi di hadapan penciptanya. Berusaha untuk tidak merasa dan mengakui bahwa agamanyalah agama yang paling benar dan paling ”diridhai” di sisi-Nya. Sebab, Tuhan nyatanya tidak memandang nama agamanya, melainkan memandang bagaimana beriman yang sejati kepada-Nya dapat diimplementasikan. ”Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS.2:62). Selanjutnya, pikirannya mau menafakuri bahwa apa pun agama (keyakinan/paham) yang dipegang teguh selama ini, ada konsekuensi luar biasanya di hari akhir nanti. ”Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu” (QS. 22:17). Yang pada akhirnya berani menerima kenyataan bahwa benar dalam pandangan manusia belum tentu benar menurut Tuhan. Sedang kebenaran mutlak-Nya mau tidak mau harus diterima oleh manusia, bila tidak ingin menanggung kerugian yang tak terhingga besar-beratnya di hari kiamat nanti. Sebagaimana pepatah timur tengah: ”yang benar akan selalu benar walaupun tidak seorang pun melakukan, yang salah tetap salah walau semua orang melakukan”

Kamis, November 20, 2008

BENARKAH TUHAN ITU ADIL?

Tidak sedikit orang yang mengeluh dengan keadaan mereka, atau karier mereka, atau keuangan mereka, atau pencapaian kesuksesan mereka, atau apa saja yang tidak sesuai dengan keinginan mereka। Keluhan ini biasanya berpuncak pada menyalahkan Tuhan. Diri sendiri sudah disalahkan, orang lain pun disalahkan, dan karena sudah tidak ada lagi yang harus disalahkan, maka Tuhan pun ikut disalahkan. Menyalahkan Tuhan ini–apa pun bentuknya–biasanya hanya berujung pada satu masalah utama, keadilan. Tuhan biasanya dianggap sebagai tidak adil dengan membeberkan fakta keadaan mereka. Tapi, benarkah Tuhan itu tidak adil? Kenapa ada yang miskin dan ada yang kaya? Kenapa ada yang sukses dan ada yang gagal? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengajak Anda melihat penuturan argumen yang akan saya berikan। Argumen ini dilandasi atas pemikiran filosofis. Tapi tenang saja, saya akan mencoba menyederhanakan argumennya, karena jika sudah berbicara tentang filsafat, maka banyak orang yang merasa pusing dan menyerah. Namun sebelumnya, perlu Anda ketahui bahwa banyak sudah pemikiran filsafat dari berbagai aliran yang mencoba menjawab pertanyaan ini. Saya pun sudah mempelajari hampir semua aliran filsafat yang menjawab pertanyaan ini, dan dari sekian banyak aliran pemikiran tersebut saya akan memberikan kepada Anda satu pemikiran yang menurut saya inilah yang terbaik, dalam menjawab seputar keadilan Tuhan tersebut.
Satu hal lagi, saya sengaja menuliskan tulisan ini, sebenarnya, untuk mengajak kita semua agar tidak lagi menyalahkan Tuhan, karena sesungguhnya Tuhan itu Maha Adil। Selain itu, argumen yang biasa orang-orang kemukakan belum terasa puas bagi saya (saya tidak bermaksud menyombongkan diri, lho).
Mari kita melihat definisi dari keadilan itu dulu। Keadilan menurut Murtadha Muthahari–paling tidak–digunakan dalam empat hal: Pertama, seimbang. Keseimbangan yang dimaksud di sini adalah kita melihat segala sesuatu dalam neraca kebutuhan yang bersifat relatif. Mari kita ambil contoh: mobil.
Untuk menciptakan sebuah mobil maka dibutuhkan berbagai bahan-bahan yang sesuai dengan kadarnya masing-masing। Kita tidak bisa membuat sebuah mobil dengan kadar semua bahannya itu sama, karena jika terjadi demikian maka Anda tidak akan pernah bisa membuat mobil yang sempurna. Jika saja Anda membuat sebuah mobil yang terbuat dari bahan-bahan yang kadarnya semuanya sama, maka justru Anda telah menciptakan ketidakseimbangan pada mobil tersebut. Ukuran bodi mobil tidaklah harus sama dengan ukuran pintunya, begitu juga ukuran mesinnya, apalagi ukuran setirnya.
Bisa Anda bayangkan bagaimana mengemudi sebuah mobil yang ukuran setirnya sama dengan ukuran bodinya? Jadi, keseimbangan di sini adalah penempatan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya, sesuai dengan kepentingan dan kebutuhannya। Dan alam semesta ini seimbang karena menggunakan definisi keadilan ini. Karena jika tidak, maka alam semesta sudah lama hancur. Itulah sebabnya kita melihat segala sesuatunya di alam ini begitu indah dan proporsional. Dan, Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan sangat seimbang.
Kedua, definisi keadilan di sini adalah persamaan dan menafikan pembedaan, yaitu memandang semuanya sama tanpa melakukan pembedaan। Perlu diketahui bahwa pembedaan itu adalah membeda-bedakan antara berbagai sesuatu yang memiliki hak yang sama yang semuanya memiliki syarat-syarat yang sama. Pembedaan ini berbeda dengan perbedaan. Kalau pembedaan terjadi dari segi pemberi, dan perbedaan terjadi dari segi penerima. Kalau Anda memiliki 10 orang pekerja yang memiliki kualitas yang sama dan jam kerja yang sama serta jenis pekerjaan yang sama, maka adalah adil jika Anda memberikan persamaan pada mereka, yaitu memberikan jumlah gaji yang sama kepada mereka semua. Artinya dari sisi Anda (sang pemberi gaji), Anda tidak membeda-bedakan mereka semua karena semuanya memiliki kualitas yang sama. Jadi sekali lagi, keadilan di sini adalah memberikan persamaan tanpa melakukan pembedaan.
Lanjutan dari definisi kedua ini kita akan sampai pada definisi yang ketiga, memelihara hak-hak individu dan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya। Kembali kita menggunakan contoh di atas, jika Anda memiliki 10 orang pekerja dan masing-masing dari mereka memiliki kekhasan atau keunikan dalam bekerja, maka adalah adil jika Anda memberikan gaji sesuai dengan keunikan dan usaha yang telah mereka lakukan dan adalah tidak adil jika Anda menyamaratakan gaji mereka semua. Oleh sebab itu, untuk meraih kebahagiaan bagi individu-individu dalam masyarakat, penting kiranya untuk menjaga hak dan preferensi setiap individu dan juga memelihara setiap keunikan setiap individu.
Kita sekarang sampai pada definisi yang keempat, memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi, dan tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan peralihan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk eksis dan melakukan transformasi। Wah… mungkin Anda bingung dengan definisi yang agak panjang ini. Namun perlu untuk Anda ketahui, pertanyaan-pertanyaan yang kita telah ajukan di atas berkaitan dengan penjelasan yang ada pada definisi keempat ini. Sebelumnya kita perlu melihat–sekali lagi–antara pembedaan dan perbedaan. Pada definisi kedua kita telah membahas dengan ringkas, maka mari kita lihat penjelasannya dengan sedikit lebih panjang.
Dalam penciptaan tidak ada pembedaan, yang ada hanyalah perbedaan। Untuk lebih jelasnya, cobalah Anda melihat contoh berikut ini: Apabila kita mengambil dua buah bejana yang masing-masing dapat memuat 10 liter air, lantas kita letakkan yang satu di bawah kran air dan kita isi dengan 10 liter air, sedangkan bejana yang lain kita letakkan di bawah kran dan kita isi dengan 5 liter air; maka inilah yang dimaksud dengan pembedaan, sebab sumber perbedaan di sini bukan dari segi daya muat bejana, melainkan dari segi si pengisi bejana.
Lain halnya jika kita memiliki dua buah bejana dan yang satu cukup untuk diisi 10 liter air, dan yang lainnya hanya dapat diisi 5 liter air, lantas masing-masing kita celupkan ke dalam laut, maka perbedaan di antara keduanya akan terus berlanjut, karena perbedaannya bersumber dari segi kemampuan masing-masing, bukan dari segi laut atau kekuatan masuknya air ke dalam bejana। Bukankah penelitian-penelitian telah membeberkan kepada kita bahwa potensi yang diberikan oleh Tuhan kepada kita semua adalah sama?
Jadi perbedaan antara yang sukses dan yang gagal itu berasal dari kita sendiri: Apakah mau memperbesar bejana kita atau hanya membiarkannya begitu saja dan berharap hal itu akan berubah? Semua hamba-Nya telah diberikan jumlah rezeki yang sama dan sangat berlimpah, hanya ada yang menampung rejeki Tuhan dengan bejana yang sangat besar, dan ada yang menampung rejeki Tuhan dengan bejana yang sangat kecil sekali।
Nah kembali pada definisi keempat di atas, dapat kita jabarkan bahwa suatu yang eksis (meng-ada) mengambil perwujudan dan kesempurnaannya dalam kadar yang menjadi haknya dan sejalan dengan kemungkinan yang dapat dipenuhi olehnya। Dalam pengertian ini, keadilan Tuhan dipandang sebagai Dia tidak mengabaikan pemilikan hak dan kelayakan yang dimilki oleh sesuatu yang ada; Dia mesti memberikan sesuatu yang menjadi haknya.
Sampai di sini mungkin ada yang bertanya: Kalau saat ini saya miskin, maka inilah hak saya? Atau, pertanyaan-pertanyaan serupa yang berkaitan dengan keburukan, ketidakberuntungan, nasib jelek, dan kejahatan; atau kenapa yang lain sukses dan yang lainnya gagal, atau kenapa yang satu cantik dan yang lain jelek? Kenapa ada juga yang cacat? Kenapa saya tidak terlahir kaya?
Mari kita lihat kembali penjabaran dari definisi keempat di atas। Suatu yang eksis (meng-ada) mengambil perwujudan dan kesempurnaannya dalam kadar yang menjadi haknya dan sejalan dengan kemungkinan yang dapat dipenuhi olehnya. Dalam pengertian ini, keadilan Tuhan dipandang sebagai Dia tidak mengabaikan pemilikan hak dan kelayakan yang dimilki oleh sesuatu yang ada; Dia mesti memberikan sesuatu yang menjadi haknya. Segala sesuatunya pasti memiliki kadar yang berbeda-beda. Jika segala sesuatunya itu sama, maka justru tidak lagi yang disebut sebagai manusia, tumbuhan, hewan, dan lain-lain. Segala sesuatu yang ada ketika eksis (meng-ada) telah mengambil porsi perwujudan mereka masing-masing.
Mari kita sederhanakan hal ini dengan melihat sistem angka। Anda tentu mengenal angka 1, 2, 3, dan seterusnya. Kita dapat melihat bahwa angka 1 mendahului angka 2, dan angka 2 mendahului angka 3, dan begitu seterusnya. Ini berarti bahwa setiap angka menempati urutannya masing-masing, dan pada urutan tersebut terdapat hukum dan pengaruh. Anda tidak mungkin menempatkan angka 5 di antara angka 7 dan 9, karena sesungguhnya wujud yang sesuai dengan kadarnya di antara angka 7 dan 9 adalah angka 8.
Nah, dalam setiap penciptaan alam semesta, segala sesuatunya telah menempati urutan meng-ada seperti itu; dengan kata lain Anda dan segala sesuatu yang ada telah meng-ada sesuai dengan kadar yang dimilikinya। Dan adalah suatu ketidakadilan jika Tuhan justru melanggar hal ini karena telah mencegah kelanjutan eksistensi dari sesuatu dan kemungkinan terciptanya sebuah transformasi. Dengan demikian segala sesuatunya itu–yang tercipta sesuai dengan kadarnya–adalah suatu bentuk kesempurnaan yang Tuhan berikan. Dan ini adalah prinsip dari hukum sebab-akibat, di mana setiap akibat pasti memiliki pengaruh dari sebabnya, dan setiap sebab pasti mendahului akibat. Angka 1 mendahului angka 2, dan keberadaan angka 2 terdapat hukum dan memiliki pengaruh dari angka 1. (Saya mohon Anda jangan menanyakan: Lantas apa yang menjadi penyebab dari Tuhan? Karena jawaban untuk pertanyaan ini tidak sesuai dengan maksud dari tulisan ini).
Itulah sebabnya, yang ada itu hanyalah perbedaan dan bukan pembedaan। Tuhan telah melimpahkan rahmatnya, hanya saja perbedaan itu terjadi sesuai dengan kadarnya dan urutan kepenciptaannya, yang berlandaskan pada hukum sebab-akibat (seperti analogi angka di atas). Angka 1 tentu berbeda dengan angka 2. Angka 2 tentu berbeda dengan angka 3, dan begitu seterusnya. Setiap angka telah menduduki urutan terciptanya dan telah sesuai dengan kadarnya. Setiap angka itu telah sempurna dan sesuai dengan kadarnya.
Jadi, jika Anda berharap untuk dilahirkan sebagai seseorang yang Anda anggap sempurna, maka pada hakikatnya Anda sudah tidak menjadi Anda lagi (lihat analogi penempatan angka di atas)। Adalah sebuah hal keliru jika kita mencoba membandingkan antara angka 1 dan angka 2, atau membandingkan angka 2 dengan angka 3. Bagaimana pun kita membandingkan, yang ada hanyalah perbedaan; karena seperti yang telah kita singgung di atas bahwa perbedaan itu terjadi dari sisi kadar si penerima dan urutan keberadaannya.
Perbedaan tidak mengisyaratkan ketidaksempurnaan, tetapi kesempurnaan। Mengatakan yang satu tidak sempurna dibandingkan yang lain adalah suatu pemikiran yang mencoba memaksa untuk menyamakan segala sesuatunya. Dan seperti yang telah saya katakan di atas, jika segala sesuatunya itu sama, maka tidak ada lagi yang disebut sebagai manusia, tumbuhan, atau hewan, atau apapun namanya. Pada dasarnya semuanya adalah sempurna dalam kadarnya masing-masing.
Itulah sebabnya dalam definisi keempat juga disebutkan bahwa terdapat banyak kemungkinan untuk eksis dan melakukan transformasi. Perbedaan itu justru mengisyaratkan kenapa ada yang disebut dengan dinamika, usaha, cinta, cumbu rayu, penderitaan, kesengsaraan, cemburu, kesuksesan, kehancuran, dan kehangatan. Jadi jika Anda protes kepada Tuhan dan berharap Tuhan menciptakan semua itu sama, maka pada dasarnya akan menyebabkan tidak adanya sesuatu yang baik dan indah, semangat dan dinamika, perjalanan dan transformasi. Karena itu, “Di pabrik cinta harus ada kekufuran,” demikian syair Hafizh. Dengan demikian apa pun yang Anda alami adalah suatu bentuk kesempurnaan dalam kadar yang Anda miliki. Hal ini menjelaskan juga kenapa setiap orang itu tidak ada yang sama alias unik. Apapun adanya Anda sekarang dan bagaimana diri Anda sekarang adalah ciptaan Tuhan yang sempurna. Membandingkan dua hal yang berbeda adalah suatu hal yang tidak bijaksana dan sangat keliru. Kesempurnaan Anda dengan kadar Anda saat ini juga memberikan kemungkinan yang sangat besar untuk melakukan sebuah transformasi dan kemungkinan eksistensi (perbaikan) yang lebih baik. Oleh karenanya, saya ingin mengajak Anda untuk melihat contoh yang begitu menarik. Contoh ini berkisah dari seekor anjing yang saya tonton di acara Oprah. Terdapat seekor anjing yang terlahir cacat (ingat, kita menyebutnya cacat karena kita membandingkannya dengan anjing normal lainnya). Anjing ini bernama Faith dan terlahir dengan hanya memiliki dua kaki belakang. Dalam pandangan keadilan, ini adalah sebuah kesempurnaan yang sesuai dengan kadarnya. Jika Anda membandingkannya dengan anjing yang memiliki jumlah kaki empat, maka sesungguhnya Anda akan mengatakan Faith sebagai anjing yang cacat. Padahal Faith adalah anjing yang sempurna yang sesuai dengan kadarnya. Jangan membandingkan dua hal yang tidak sebanding; dua kaki dan empat kaki itu tidak sebanding. Yang membuat saya berdecak kagum adalah, dalam kadarnya yang demikian, Faith masih bisa melakukan kemungkinan eksistensi (perbaikan diri; transformasi). Faith sekarang bisa berjalan dengan hanya menggunakan dua kakinya yang ada, padahal banyak dokter yang menyarankan untuk membunuh anjing tersebut dengan melihat kemungkinan bahwa Faith takkan bisa berjalan sama sekali. Luar biasa, bukan?
Percayalah bahwa Tuhan memberikan rahmat dan kelimpahan-Nya yang sama kepada semua makhluk, dan Anda bisa melakukan transformasi untuk membuat bejana Anda menjadi lebih besar. Perbedaan mengisyaratkan transformasi. Sekiranya tak ada gunung, maka tak akan mungkin ada lembah dan air yang mengalir darinya. Sesuatu yang Anda anggap buruk belum tentu buruk bagi dirinya sendiri; karena–sekali lagi– membandingkan dua hal yang tidak sama adalah tidak pada tempatnya. Dan Tuhan tentu memelihara segala sesuatunya yang berada dalam kadarnya masing-masing. Jadi, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil. Anda telah sempurna dalam posisi Anda saat ini, dan Anda bisa melakukan transformasi bagi diri Anda sendiri. Semoga bermanfaat!!!
Di tulis oleh sumardi

Sabtu, September 20, 2008

RENUNGAN BUAT CALON SARJANA

Oleh : Sumardi Evulae Kepala BPL HMI Cabang Kota Jantho
Dalam rentang waktu February - Mei 2008, saya tiga kali diundang oleh tiga perguruan tinggi berbeda di Banda Aceh dan Aceh Besar. Ketiganya mengundang saya dalam kapasitas sebagai praktisi dan motivator educational untuk mengisi Kuliah Umum (stadium general). Selama saya mengisi acara, ada “catatan besar” yang saya peroleh. Catatan besar itu lebih mengarah pada kegelisahan saya akan masa depan para mahasiswa kita. Terutama terkait dengan ke mana mereka akan berlabuh setelah mereka lulus kuliah. Artikel ini mencoba mengupasnya.
Disadari atau tidak, saat ini keadaan mahasiswa kita masih sangat mengkhawatirkan. Hal ini tidak saja karena tuntutan persaingan yang luar biasa, melainkan orientasi mahasiswa yang sangat praktis pragmatis. Coba tanya, ke mana mereka setelah lulus kuliah? Jawaban singkat yang muncul adalah “mencari kerja”.
Kata-kata “mencari” saya temukan dalam tiga kali pertemuan di tiga kampus yang berbeda. Mungkin sudah hal yang umum dan tidak ada yang aneh melihat jawaban para mahasiswa tersebut. Hanya saya khawatir, “mencari” adalah sama dengan “belum menemukan sesuatu”. Itu artinya mahasiswa kita selama 4-5 tahun kuliah tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan, ilmu yang mereka dapatkan sering kali tidak sesuai dengan apa (pekerjaan) yang mereka cari. Misalnya, mahasiswa teknik bekerja di perbankan begitu pun sebaliknya. Itu artinya apa? Mahasiswa kita kebanyakan memperoleh ilmu yang setengah-setengah alias tidak matang. Untuk memahami masalah ini, saya kutipkan sebuah kisah inspiratif di bawah ini.
Diceritakan, ada seorang pemuda yang mengendap-endap untuk mencapai sebuah pohon mangga. Buah yang bergelantungan membangkitkan seleranya. Beberapa saat kemudian, ia berusaha meraih beberapa buah untuk mengobati air liur yang mulai memenuhi mulutnya. Namun, sontak ia dikagetkan oleh suara ayahnya yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang. “Jangan anakku, urungkan niatmu memetik buah itu!” tegur sang ayah bijak. Pemuda itu lantas berpaling ke arah ayahnya, sementara tangannya seperti kejang menggapai angin.
Dengan sigap dan penuh kelembutan, sang ayah meraih tangan anaknya. Lalu, membawanya berkeliling mengitari kebun pohon mangga. Sambil berjalan-jalan santai, ia mulai menasihati anaknya. “Anakku, memetik buah itu bukanlah tujuan yang hendak kita capai. Tujuan yang sebenarnya adalah mengambil manfaat dari buah itu setelah kita memetiknya. Ayah kira, buah yang belum matang itu tidak banyak memberikan manfaat bagi manusia. Oleh karena itu, tunggulah beberapa saat hingga buah itu matang dan kita dapat mengambil manfaat darinya.” Begitu nasihatnya.
Dari uraian kisah di atas, kita dapat mengambil makna bagaimana seseorang perlu bersabar dalam meraih kesuksesan. Sabar dalam pengertian ini adalah memahami apa (what), kapan (when), di mana (where) dan bagaimana (how) sebuah keputusan itu diambil. Selama ini, hidup kita lebih banyak didominasi oleh keputusan-keputusan yang dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat materi semata tanpa memahami akibat yang ditimbulkan. Mencari pekerjaan bertujuan untuk mendapatkan uang, mendirikan usaha bisnis juga untuk memperoleh uang, termasuk mencari ilmu (saat ini) entah itu kuliah S-1, S-2, atau S-3 tidak jauh dari tujuan utama untuk menghasilkan uang. Singkatnya, uang saat ini sudah menjadi tujuan utama dalam hidup. Bahkan, karena uang, orang menjadi jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kesabaran.
Empat tahun seseorang dididik, diajarkan, dan dilatih untuk bisa menjadi seorang sarjana. Atribut sosial kesarjanaan selalu identik dengan status sosial. Ketika orang menjadi sarjana, maka ia sudah masuk di kelas menengah. Status sosial inilah yang mestinya disikapi secara cerdas oleh para mahasiswa kita saat ini. Jika tujuan utama kuliah adalah masih mencari kerja, maka yang ia dapatkan pun adalah kekecewaan. Barisan pengangguran yang terus bertambah jumlahnya tiap tahun memberi pelajaran berharga pada kita semua betapa kuliah ternyata tidak mampu menjawab masalah pengangguran. Kondisi ini mesti disikapi secara cerdas oleh para calon sarjana kita jika hendak lulus kuliah.
Ada tiga cara efektif dan cerdas agar kita tidak tergantung sebatas mencari kerja. Namun, setelah kuliah harus bisa menciptakan lapangan kerja. Cara cerdas ini antara lain: Pertama, mulailah dengan cinta. Mengapa cinta? Karena, dengan punya cinta maka segalanya akan terasa lebih mudah dan ringan. Jika Anda cinta musik, Anda punya peluang (opportunity) besar untuk buka usaha studio musik. Jika Anda cinta automotif, Anda punya peluang besar untuk membuka bisnis bengkel atau cuci motor/mobil.
Jika Anda cinta memasak, maka Anda punya peluang besar untuk buka usaha rumah makan, restoran, atau kursus memasak. Jika Anda cinta menulis, maka Anda punya peluang besar untuk buka usaha kursus jurnalistik. Termasuk jika Anda cinta bahasa asing, maka Anda punya peluang besar untuk buka kursus bahasa asing. Dengan cinta itulah, minat dan hobi bisa berubah menjadi bisnis yang menggiurkan. Cobalah Anda mencintai apa yang menjadi minat dan hobi Anda.
Kedua, tindak lanjuti dengan aksi. Artinya, perlu tindakan konkrit. Mencintai sesuatu tidak akan bermakna jika tidak ada langkah nyata. Wirausaha membutuhkan semangat aksi. Saya menganut ajaran: “Lakukan dulu, soal perencanaan dan lain sebagainya bisa dikerjakan belakangan.” Jika belum apa-apa sudah takut ini takut itu, maka bisnisnya tidak akan pernah jadi. Karena, sebenarnya ketakutan itu diciptakan sendiri oleh kita, bukan orang lain. Ketiga, buktikan dengan budi pekerti. Artinya, setelah cinta mewujud menjadi aksi, maka wirausaha perlu budi pekerti yang baik. Berbisnis perlu aturan main yang baik, tidak boleh sikut sana sikut sini. Kejujuran dan keramah tamahan pada para konsumen akan semakin memikat dan mengikat mereka untuk kembali lagi bertransaksi dengan kita.
Tidak ada yang instant
Saya bertanya kepada beberapa teman mahasiswa semester akhir “Apa tujuan kalian setelah kuliah ini selesai dan kalian jadi sarjana?” “Ya jelas kerja dong...” ini jawaban spontan. “Kerja apa dan di mana?” “Apa saja, kalau bisa sih yang sesuai dengan bidang Saya. Kalau nggak dapat, pekerjaan lain juga tidak masalah. Yang penting kerja dan dapat gaji.”
Maksudnya jelas, mereka akan mencari kerja, dalam arti mencari pekerjaan di perusahaan siapa saja dengan pekerjaan apa saja kalau tidak ada yang pas, yang penting dapat gaji, uang. Itu adalah cita-cita mereka. Selama Saya ngobrol dengan teman-teman mahasiswa jarang sekali Saya mendapatkan jawaban, bahwa setelah kuliah ini mereka akan membuat atau menciptakan sesuatu. Menjadi peneliti tentang pendidikan misalnya, kemudian merombak sistem pendidikan yang sering di katakan oleh para pakar pendidikan sebagai tidak betul, tetapi si pakar itu sendiri tidak pernah membetulkan. Atau misalnya menjadi pencipta dan penemu yang berhubungan dengan pendidikan formalnya, katakanlah seorang Sarjana Ekonomi jurusan manajemen yang menjadi suatu sistem manajemen terbaru, yang bisa mengatasi kesenjangan manajemen di suatu kantor yang khas sistem keluarga. Atau seorang lulusan akuntansi yang menemukan suatu sistem tertentu untuk menangkal pungli dan praktik under the table. Penemu, pencipta, dan peneliti biasanya justru menjadi pekerjaan para pengangguran yang terpaksa mengaku diri sebagai peneliti, pencipta dan penemu supaya tidak di katakan pengangguran. Para fresh graduate lebih senang menjadi kuli untuk membenarkan ungkapan yang ada di jaman penjajahan, van volk van koelies en koeli onder de volken! Bila ditanya mengapa kok begitu, jawabannya pasti seragam, masalah modal dan pengalaman. “Saya kan nggak punya modal.” “Saya kan nggak punya pengalaman.” Itulah ungkapan golongan Ekonomi bawah. Bagi yang kelas Ekonominya agak ke atas, jawabannya juga seragam, “Ayah kan udah uzur, jadi kita dong yang mesti menggantikan ayah mengurus usaha keluarga.” Susah-susah sekolah sampai ke Amerika, setelah pulang cuma jadi bos bengkel mobil atau ngurusin perusahaan angkutan truk kelas local. Mahasiswa kita didik oleh profesor dan para pakar yang memakai sistem dogma, betul salah, dan memorisasi. Jadi tidak salah kalau mereka lulus dan memulai hafalannya dengan “mencari kerja” sebagai kuli dan bukan penemu. Para pakar mengatakan dengan bahasa halus bahwa mahasiswa kita tidak siap pakai. Memangnya Mau di pakai untuk apa? Apa ungkapan “tidak siap pakai” itu tidak salah? Bila para mahasiswa tadi seharusnya siap pakai, apa itu tidak berarti menjadi kuli? Apa memang kita produsen kuli dan di takdirkan menjadi bangsa kuli seperti ungkapan kuno itu? Kalau para pakar mengetahui bahwa mahasiswa “tidak siap pakai”, mengapa mereka tidak berusaha mengubah tatanan pendidikan yang diajarkannya agar para mahasiswa itu “siap pakai”, sehingga paling tidak bisa menciptakan kuli yang tidak menganggur?
Lalu muncullah jawaban klise dari para pakar, “Mengubah struktur atau sistem pendidikan itu bukan hal mudah, harus melewati prosedur dan birokrasi, kita tidak bisa seenaknya mengubah suatu yang sudah mapan begitu saja …” Kalau para pakar tetap dengan budaya prosedur, birokrasi, dan minta petunjuk, mohon perkenan, sampai kapanpun keadaan tetap sama. Mengubah struktur dan sistem pendidikan bukanlah seperti yang sering dikatakan para pakar di forum seminar dan lokakarya di hotel mewah atau ruang pertemuan bergengsi lembaga pendidikan. Mengubah struktur dan sistem pendidikan di mulai dengan mengubah cara berpikir para pendidik itu sendiri dan cara berpikir kita dengan pola yang tidak hanya didominasi oleh otak kiri. Bukan dengan mengubah anak didik kita atau mengubah kurikulum melalui seminar atau lokakarya. Mengubah cara berpikir kita sendiri yang berprofesi pendidik adalah yang terutama dan terpenting. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan soal gaji guru yang kecil dan masih di potong di sana sini, juga tidak berurusan dengan kondisi politik atau siapa presiden atau menteri pendidikannya. Ini hal yang sangat pribadi, sangat personal, tiap orang bersedia dan Mau mengubah cara berpikir dirinya sendiri. Itu saja, sudah lebih dari cukup. Bila dulu seorang guru berpikir menjadi guru adalah sebuah pekerjaan, sekarang ubahlah pikiran itu bahwa menjadi guru adalah sebuah misi, sebuah kebahagiaan meskipun harus dijalani dengan banyak keprihatinan. Ini kurang lebih sama dengan pengabdian seorang abdi dalem kraton di Jawa Tengah. Pengabdian adalah sebuah anugrah, derita fisik dan materi bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kesempatan mengabdi kepada raja. Bila profesi guru, dosen, dan pengajar masih menjadi sebuah pekerjaan dan bisnis, selama itu pula mahasiswa kita akan lulus dengan titel “tidak siap pakai”. Profesi guru, dosen dan pengajar seharusnya menjadi sebuah ritual yang menciptakan kebahagiaan dan kualitas hidup bagi pelakunya. Itulah upah pokok seorang guru, dosen, atau pengajar. Sekolah di luar negeri bukanlah solusi selama tatanan dan pola pikir sedari lahir sampai menjelang dewasa tetap dengan tatanan khas yang kita dapat secara umum di negara kita. Dominasi otak kiri kita sudah berjalan cukup lama melewati beberapa generasi, ini di turunkan dan di wariskan lewat berbagai cara secara intensif detik demi detik oleh rata-rata masyarakat kita. Apakah itu bisa berubah begitu saja secara instant melalui pembelajaran atau perubahan kurikulum? Kebiasaan menghafalkan pelajaran atau diktat (yang gunanya dalam kehidupan patut dipertanyakan), sadar tidak sadar melekat kuat bagai lintah. Kebiasaan matematika-ria setiap saat di setiap cela kehidupan, apapun itu, juga cukup erat juga bagaikan kebudayaan dan kultur. Bahkan kepada Tuhan pun masyarakat kita sangat sering ber-matematika-ria, bila hari ini Saya berbuat sesuatu yang kurang lebih berdosa atau melanggar sesuatu larangan menurut kitab suci, maka Saya harus berdo’a begini dan berbuat begitu supaya dosa tersebut diampuni. Soal individu lain yang kita rugikan melalui perbuatan yang tadi kita mintakan pengampunannya itu, apakah kita juga akan meminta maaf dan mengganti kerugian? Tidak perlu karena kita sudah “diampuni” Tuhan. Benarkah demikian? Manusia berdo’a demi sebuah kapling di surga, dan ini adalah kenyataan yang bisa kita lihat sehari-hari. Manusia sudah berbisnis dengan Tuhan. Dan Tuhan menjadi pengusaha properti berlabel The Heaven Real Estate. Untuk ini hampir semua unsur dan berbagai sektor kehidupan harus ikut bertanggung jawab. Keadaan seperti ini tidak mungkin kita ubah secara instant menjadi lebih baik dan menjadi lebih seimbang cara berpikirnya. Saat ini ada puluhan juta orang Indonesia menjadi pengangguran, sementara para pejabat serta pakar berkoar soal iklim yang kondusif, bagaimana menarik investor, bagaimana mendapat utang luar negeri dan IMF. Reformasi dan demokrasi sekarang artinya menjadi lain dan sangat bias: bebas menjarah, bebas membakar-bakar, boleh berdemo di mana saja, boleh memaki-maki siapa saja, boleh membakar hidup-hidup seorang pencuri ayam atau sepeda motor. Dan, ini aneh, di balik itu semua kita berusaha mendapatkan label sebagai Manusia-Manusia religius. Mengubah cara pikir bukanlah dengan agama atau kurikulum tetapi dengan mengubah diri, melakukan perjalanan ke dalam diri dan mengenal spiritualitas sebagai spiritualitas. Ini yang sulit karena kita harus berani belajar tanpa lembaga, tanpa titel, dan tanpa harapan akan mendapatkan apa-apa. Tindakan ini suatu perjalanan petualangan yang akan menempuh gurun pasir terpanas, sungai dan lautan terganas, tetapi juga sekaligus sebuah hutan misterius yang begitu alamiah dan wangi khas hutan. Tanpa harapan adalah hal terpenting yang akan menjadi tajuk awal perjalanan kita. Yang selanjutnya adalah pemahaman pada proses dan ketidakpedulian pada hasil akhir. Ini adalah deretan syarat untuk memulai perjalanan panjang tentang pemberdayaan diri dan mengembangkan kemampuan otak kanan. Apakah Anda siap untuk memulai pelajaran ini? Tulisan ini tidak akan menjadikan Anda orang hebat atau sukses dalam segala bidang, apalagi seorang pintar yang jenius. Penulisnya pun bukan orang istimewa yang pintar dan jenius. Tulisan ini dibuat sebagai sebuah catatan perjalanan, sebuah catatan harian dan memoar untuk mengenang perjalanan panjang yang belum selesai. Tulisan ini hanya akan menggelitik Anda untuk memulai perjalanan dan kemudian menemani di sepanjang perjalanan itu. Bukan membimbing! Bukan! Bila diinginkan label yang lebih jelas, paling-paling tulisan ini hanya akan menjadi seorang pelayan, seorang pembantu yang siap melayani Anda di dalam perjalanan. karena itu Saya menunggu Anda memulai perjalanan yang tidak bisa instant ini.
Ketiga cara yang telah dikemukakan di atas bisa dibuat formula sebagai berikut. Ibarat rumah, cinta adalah fondasi, tiangnya adalah aksi, atap-atapnya adalah budi pekerti. Karena itulah, untuk mereka yang akan lulus kuliah, melangkahlah dengan kaki keyakinan untuk menciptakan lapangan kerja dan tidak lagi mencari kerja. Jangan takut gagal, karena kegagalan adalah pintu memasuki keberhasilan. Selamat mencoba. Bagaimana menurut Anda?
tulisan ini menjadi juara III lomba artikel yang di buat oleh Majalah Sinarpost USM, tanggal 19 Ramadhan 1429 H.
penulis dapat di hubungi di uo83_lanteng@yahoo.com atau 08126916362
***

Selasa, September 09, 2008

RAMBUTAN, BISA MENGATASI UBAN

Oleh : Sumardi Evulae Musim rambutan telah tiba. Berbagai jenis rambutan mulai dari ropiah, simacan, sinyonya, lebak bulus, dan rambutan Binjai, mulai masuk ke pasar buah. Dari segi rasa, juga bermacam-macam. Ada yang manis sekali, agak manis, asam, asam manis dan lainnya. Selain itu juga ada yang bisa dimakan hingga meninggalkan bijinya saja, atau sisanya masih lengket di biji buah.
Menurut siklusnya, rambutan seharusnya berbunga pada musim kemarau dan membentuk buah pada musim hujan. Tepatnya sekitar November sampai February. Namun sekarang, rambutan tidak memiliki bulan yang tepat untuk berbuah. Perubahan iklim dan cuaca, telah memporak porandakan siklus berbuahnya rambutan.
Fenomena itu bisa dilihat saat ini. Di mana rambutan sudah berbuah dan dijual bebas di pasar, sekitar bulan Juni dan Juli. Musim buah yang berangan dengan durian, membuatnya menjadi buah-buahan alternatif yang bisa dinikmati pada bulan Juni dan Juli.
Rambutan sebenarnya memiliki khasiat yang lebih hebat daripada rasa buahnya yang manis. Hampir seluruh bagian tubuhnya berkhasiat obat sebutlah daun, kulit, akar, kulit buah dan lainnya.
Tumbuhan yang bisa diperbanyak dengan biji, okulasi atau dicangkok ini, menurut penelitian memiliki banyak kandungan kimia. Di mana buahnya mengandung karbohidrat, protein, lemak, fosfor, besi, kalsium, dan vitamin C.
Adapun kulit buahnya, diketahui mengandung tannin dan saponin. Sementara bijinya mengandung lemak dan polifenol. Dan daunnya, juga diketahui mengandung tannin dan saponin, flavonoida, petic substances dan zat besi.
Pohon rambutan banyak dikebunkan masyarakat, untuk keperluan mendapat keuntungan saat musim buahnya tiba. Walau tak jarang juga, ditemukan tubuh liar di semak belukar, ataupun di hutan.
Tumbuhan tropis ini, memang suka iklim yang lembab, dengan curah hujan tahunan paling sedikit 2.000 mm. Rambutan aman di tanam di dataran rendah, hingga ketinggian 300 sampai 600 meter dari permukaan laut.
Pohon rambutan mudah dikenali dengan tingginya yang mencapai 15 sampai 25 meter. Ia termasuk tumbuhan dengan percabangan yang banyak. Dari segi daun, termasuk majemuk menyirip, dengan letaknya yang berseling dengan anak daun 2-4 pasang.
Helaian anak daunnya bulat lonjong, panjang runcing dengan tepi rata. Pertulangannya menyirip, dengan letak berselang seling. Anak daunnya bulat lonjong, dengan panjang 7,5 – 20 cm dan lebar 3,5 -8,5 cm. Ujung dan pangkalnya meruncing, tepi rata dan tangkainya silindris. Adapun warnanya, hijau dan kerap kali mengering.
Jika berbunga, akan tampak bunganya yang tersusun pada tandan di ujung ranting. Baunya harum, kecil-kecil, dengan warna bunga hijau muda. Bunga jantan dan bunga betina, tumbuh terpisah dalam satu pohon. Buah bentuknya bulat lonjong, dengan panjang 4-5 cm, dengan duri tempel yang bengkok, lemas sampai kaku.
Kulit buahnya berwarna hijau sewaktu kecil, kemudian menjadi kuning atau merah kalau sudah masak dinding buahnya tebal, dengan rasa yang khas. Sementara bijinya berbentuk elips, terbungkus daging buah berwarna berwarna putih transparan yang dapat dimakan dan banyak mengandung air, rasanya bervariasi dari masam sampai manis. Kulit biji tipis berkayu.
Walaupun lebih banyak digunakan untuk dimakan buahnya, beberapa bagian dari pohon rambutan memiliki khasiat yang penting bagi kesehatan. Seperti kulit buah, yang dikenal bisa digunakan sebagai penurun panas. Adapun bijinya yang sering dibuang atau dibibitkan kembali, berguna untuk menurunkan kadar gula darah (hipoglikemik).
Untuk keperluan obat-obatan, bagian tanaman yang bisa dimanfaatkan adalah bagian kulit buah, kulit kayu, daun, biji dan akarnya. Secara turun-menurun, kulit buah dikenal bisa mengobati disentri dan demam. Sementara kulit kayu, bisa digunakan untuk mengatasi sariawan. Adapun daun bisa dimanfaatkan untuk mengatasi diare dan juga bisa menghitamkan rambut.
Tidak sampai di situ saja, akar rambutan juga menyimpan khasiat obat. Ia bisa dimanfaatkan untuk mengatasi demam, yang sering membuat terhambatnya berbagai aktivitas. Begitu juga bijinya, juga baik digunakan untuk mengatasi kencing manis (diabetes melitus).
Jika tertarik menggunakan rambutan sebagai sarana pengobatan alami, maka untuk obat yang diminum, tidak ada dosis yang dapat merekomendasi. Baiknya minta sarana pada yang sudah berpengalaman dengan ramuan dari rambutan. Sementara untuk pemakaian luar, gilinglah daunnya sampai halus, lalu tambahkan sedikit air. Gunakan air perasan untuk menghitamkan rabut yang beruban.
Beberapa ramuan yang bisa diikuti, seperti untuk mengobati disentri. Segeralah cuci kulit buah rambutan (10 buah), potong-potong seperlunya. Tambahkan tiga gelas minum air bersih, lalu rebus airnya, hingga tersisa separuhnya. Setelah dingin, saring dan minum sehari dua kali, masing-masing tiga per empat gelas.
Bagi yang menderita demam, juga cuci kulit buah rambutan yang telah dikeringkan (15 g). Tambahkan tiga gelas air bersih, lalu rebus sampai mendidih selama 15 menit. Setelah dingin, saring dan minum 3 kali sehari, masing-masing sepertiga bagian.
Nah bagi yang ubanan, mudah-mudahan ramuan ini bisa membantu. Segeralah cuci daun rambutan secukupnya, lalu tumbuk sampai halus. Tambahkan sedikit air sambil di aduk merata sampai menjadi adonan seperti bubur. Peras dan saring dengan sepotong kail. Gunakan air yang terkumpul untuk membasahi rambut kepala. Lakukan setiap hari sampai terlihat hasilnya.
Bagi penderita kencing manis, gonseng atau bakarlah di atas kuali biji rambutan (lima biji), lalu giling sampai menjadi serbuk. Seduh dengan satu cangkir air panas. Setelah dingin, minum airnya sekaligus. Lakukan 1-2 kali sehari. Untuk sariawan, cucilah kulit kayu rambutan (tiga ruas jari) lalu rebus dengan 2 gelas air bersih, sampai tersisa satu gelas. Gunakan untuk berkumur selagi hangat.
Ramuan daun rambutan juga bagus untuk mengeluarkan penyakit campak. Remaslah daun rambutan, sampai airnya hijau. Saring lalu campurkan dengan telur yang sudah dikocok. Tambahkan air soda, aduk hingga menyatu. Lalu minum dalam satu hari tiga gelas air ramuan. Insya Allah hasilnya akan segera tampak dengan keluarnya penyakit campak.
Memandang banyaknya khasiat rambutan, maka tentunya ia bisa memberi manfaat sepanjang waktu. Jadi kalau tidak lagi musim buah, maka olahlah daun rambutan untuk keperluan komersial. Khasiat yang nyata, tentunya akan membuat banyak orang beralih pada pengobatan alami dengan herba rambutan.

Rabu, Agustus 13, 2008

BANGKITLAH HMI

Catatan Perjalanan kongres XXVI 28 July - 05 Agustus 2008 di Kota Palembang Oleh: Sumardi Evulae Kepala Badan Pengelola Latihan HMI cabang Kota Jantho
Tidak terasa, kita telah memasuki tahun Kelahiran HMI yang ke-61, dan selama itu pula, kita telah mengalami pergantian Pucuk Pimpinan organisasi, baik di tingkat Pengurus Besar, BADKO, Cabang, bahkan komisariat, sebanyak dua puluh enam kali sudah di adakan kongres. Namun, sampai hari ini, cita-cita HMI yang didengung-dengungkan, yakni kehidupan masyarakat yang adil, makmur dan diridhai Allah belumlah tercapai. Apalagi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, sejak krisis multy dimensi pasca reformasi tahun 1998, kita belum bisa bangkit dari keterpurukan sepenuhnya.
Padahal, sampai tahun 2008 ini, organisasi lain yang sama-sama terkena imbas krisis seperti PII dan berbagai Ormas Islam lainnya, telah mampu bangkit kembali. Namun, HMI yang sangat kita cintai ini masih terus menggeliat berusaha untuk bangkit.
Agaknya, karena HMI merupakan organisasi kader dengan misi ke-Islaman dan ke Indonesiaan membuat organisasi ini bisa bertahan melintasi zaman pasca kemerdekaan Indonesia sampai saat ini. Namun seiring dengan perkembangan zaman, gerakan kader HMI nyaris tak bergema dalam membangun bangsa dan menyikapi persoalan agama. Padahal usia 61 tahun seyogyanya membuat organisasi ini semakin dewasa dan berwibawa. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa HMI mengalami idealisasi dan romantisasi masa lalu. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kejayaan HMI hanya sebuah mitos. Dan, tampaknya popularitas HMI saat ini lebih dikarenakan kiprah para alumninya. ”Nikmatnya” ber-HMI lebih dirasakan oleh para kader yang kini telah menjadi alumni, sanjungan dan pujian terhadap kader-kader HMI acap kali menjadi bahan diskusi menarik di kalangan alumni. Sementara gerakan kader saat ini, lebih menjadi “kerinduan” orang-orang yang bangga terhadap HMI dalam menyikapi perkembangan bangsa dan agama. Lalu, Bagaimana dengan kader-kader saat ini? Tegasnya, eksistensi HMI mulai dipertanyakan di era serba terbuka saat ini.
Saat ini, jika dibandingkan dengan Organisasi-organisasi Islam lainnya, kita tertinggal. Bahkan, bisa dikatakan kita telah mengalami sejumlah kemunduran, seperti Bakti sosial untuk umat, Wawasan keilmuan, politik, diskusi-diskusi ilmiah, menulis, sosial budaya dan berbagai tradisi intelektual lainnya. Belum lagi masalah mutu sumber daya manusia atau dalam istilah kita disebut kader, korupsi, kepemimpinan yang tidak amanah, tanggung jawab organisasi tidak ada, primordialisme, pertikaian, sikap-sikap kita yang tidak mencerminkan intelektual-Islam dan segudang masalah, masih menumpuk untuk kita selesaikan bersama. Tentu, untuk mencapainya, kita butuh perjuangan yang panjang.
Idealnya, pola perkaderan HMI diarahkan untuk membantu pengembangan kepribadian kader secara integral dan komprehensif dengan menyentuh berbagai potensi yang dimilikinya. Tegasnya, pola perkaderan mampu memberikan kontribusi yang berharga dalam pembinaan kader sehingga memiliki multi kecerdasan, baik dalam intelektual, sosial, emosional, spiritual, terutama kecerdasan religius. Dengan demikian akan terlahir kader yang memiliki lima kualitas insan cita yang tidak hanya berilmu tetapi memiliki kepribadian yang akhlaqul karimah. Itulah potret muslim kaffah alias insan kamil atau manusia paripurna yang mesti dituju dan berupaya semaksimal mungkin untuk meraihnya, sebab HMI adalah organisasi yang berazaskan Islam. Walaupun pengurus dan banyak pihak telah berusaha memperbaiki, namun, ternyata kita masih membutuhkan mental luar biasa untuk bangkit dari semua keterpurukan ini.
Memang, tidak mudah untuk mewujudkan pola perkaderan yang baik. Segala komponen perkaderan mesti mendukung prosesnya. Instruktur selaku “pendidik” dituntut mampu menjadi teladan dari berbagai aspek, baik dari segi keilmuan, keimanan, maupun pengalamannya sehingga menjadi motivator dan inspirator bagi calon kader untuk menjadi insan terbaik. Hal lainnya adalah materi yang di tawarkan dalam perkaderan. Tidak hanya berkenaan dengan materi keorganisasian semata, tetapi lebih dari itu diharapkan memperkaya wawasan para kader HMI tentang ayat-ayat Allah SWT, baik mengenai ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Hal ini sangat penting mengingat bahwa kader HMI berasal dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda, dari Perguruan Tinggi Agama Islam dan dari Perguruan Tinggi umum.
Sehingga kader HMI minimal tidak juga ikut terjebak dengan virus TBC (Tahayul, Bid’ah, Churafat) di mana virus ini terus mewabah ke berbagai elemen termasuk kampus. Justru kader HMI diharapkan untuk bisa memberikan pemahaman Islam yang benar kepada umat. Di usianya yang kesekian tahun ini, HMI mesti melakukan reorientasi terhadap gerakan dan pola perkaderan HMI. Meskipun HMI telah memiliki tujuan dan visi yang jelas, akan tetapi perlu mengambil langkah yang strategis untuk mencapai tujuan tersebut. HMI ditantang dan di tuntut untuk mampu memenuhi kebutuhan umat dalam konteks ke-kinian dan ke-disinian. Untuk memenuhi harapan tersebut, HMI harus mampu menginterpretasikan spirit perjuangan Lafran Pane sesuai kebutuhan saat ini. Kehidupan beragama umat Islam, misalnya masih banyak problem yang belum terselesaikan bahkan semakin rumit. Tidak hanya ajaran agama yang terkena TBC saja, bahkan penyimpangan aqidah yang sangat prinsip dan krusial pun mengancam kehidupan umat. Munculnya aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan ajaran Islam merupakan contoh konkrit yang terjadi saat ini. Begitu juga dengan degradasi moral yang tidak hanya dialami oleh masyarakat awam, tetapi kalangan intelektual muda di kampus juga bisa terjadi.
Jika Lafran Pane gelisah dengan anggapan mahasiswa di masanya yang di anggap modern dengan berdansa, maka kader HMI saat ini seyogyanya turut gelisah dengan kondisi kaum muda yang menjadi korban budaya asing, pemahaman Islam dengan menerima mentah-mentah kata “dewan suro” serta makna kebebasan yang kebablasan atau yang serupa dengannya.
Karena itu, menurut saya, agar dapat bangkit dan memperbaiki HMI, kita butuh komitmen setiap Kader HMI untuk menghidupkan kembali roh atau jiwa ke-Indonesiaan dan ke-Islaman kita! Hanya dengan kesadaran dan bangkitnya jiwa ke-islaman dan ke-Indonesiaan, akan muncul kekayaan mental atau semangat kebersamaan untuk berjuang secara alami menegakkan kepercayaan yang benar yakni dalam Dinul Islam.
Sehingga, kita sadar tantangan yang kita hadapi hari ini adalah tanggung jawab kita bersama. Hanya dengan perubahan sikap mental yang dimulai dari dalam diri, maka perubahan signifikan akan terjadi.
Dengan begitu, semangat juang HMI untuk Islam akan muncul di sanubari setiap kader HMI. Lewat proses perjuangan dan kerja keras bersama, saya yakin, HMI akan mampu tegak kembali, mandiri, maju, dan sejajar dengan organisasi-organisasi lainnya di Indonesia maupun dunia. HMI harus berani melakukan berbagai inovasi dan reformasi baik dalam sistem perkaderan, sistem pembinaan organisasi, struktural organisasi dan hal lainnya yang berkaitan dengan tetap mengacu kepada tujuan yang telah ditetapkan. Jika di masa lalu kader HMI lebih dikenal sebagai kader yang pandai be-retorika, kecerdasan intelektual tinggi, mudah bersosialisasi, lihai berpolitik, dan sebagainya, maka saat ini keahlian itu tidak hanya sampai di situ saja. Lebih dari itu, kader HMI dituntut untuk memiliki lima Kualitas Insan Cita yang pada dasarnya menginginkan pengembangan kepribadian yang sehat dengan membangun multy kecerdasan.
Akhir kata, untuk kita renungan setiap insan HMI: Tak peduli bagaimana pun ganasnya badai kehidupan. Tak peduli bagaimana pun beratnya tantangan hidup. Semua cobaan itu tak kan mampu menggoyahkan seseorang yang memiliki keteguhan, kemauan, dan keyakinan. Tanpa ada upaya seperti itu, bisa jadi eksistensi HMI tak lagi bernyali, pengabdian terhadap agama dan bangsa akan terhenti mati dan kebesaran HMI hanya tinggal di prasasti.
YAKIN USAHA SAMPAI!!!

my fan